Tips Wisata

Nyenyuwun di Pantai Siung



Nyenyuwun di Pantai Siung

"Tuhan. Di bawah langitMu yang serupa safir, aku memohon. Di hadapan laut-Mu yang gaduh aku nyenyuwun. Biarkan angin sore ini bercengkerama denganku. Agar ayem tentrem hatiku."

Spotunik.com - Di pantai berbatu sebentuk Siung (gigi taring) inilah aku melepaskan segala penat dari hari-hariku yang melelahkan sepanjang pekan. Pantai Siung namanya. "Tempat melafalkan permohonan," tutur Wastoyo Wangsit, lelaki sepuh berusia 97 tahun, yang menjadi juru kuncinya. 

Nama Siung juga dipahami sebagai akronim dari frase bahasa Jawa "Asihing Biyung" yang artinya 'kasih-sayang ibu'. Berjarak kurang lebih 77 km dari pusat kota Jogjakarta, Siung seperti destinasi di luar peradaban. Namun sungguh menarik perhatian orang-orang dari pusat peradaban postmodern. Pantai yang secara administratif termasuk wilayah Dusun Wates, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul ini memiliki 250 jalur panjat tebing sebagai spot wisata berstandar internasional.

Menurut Sudarli, ketua Pemukiman Pantai, asal usul nama Siung diambil dari sepenggal kisah lampau. Kisah kawin paksa tersebutlah Roro Surti, seorang gadis cantik yang melawan kehendak orang tuanya. Ia menolak dijodohkan dengan lelaki yang bukan pilihannya sendiri. Lolos dari rumah, Surti bersembunyi di tepian pantai. Hingga bertemu dengan Nyi Lanter, penjual makanan di Watulawang. Surti dibawa pulang dan dirawat layaknya anak sendiri. Kelak ia dikawinkan dengan seorang mantan manggolo (panglima perang) pengikut Prabu Brawijaya. 

 

Baca juga: Sedekah Laut, Upacara Adat Di Pantai Wediombo

 

Menurut kisahan, Roro Surti kemudian dilantik menjadi lurah Winangun Purwodadi pada hari Rabu Legi. Jabatannya dikuatkan oleh supucuk kekancingan dari keraton Mataram. Karena itulah Roro Surti juga dikenal sebagai Nyi Kancing. Hingga sekarang masyarakat desa Purwodadi selalu menggelar ritual Rasulan (bersih desa) setahun sekali. Dan memilih pelaksanaan pada hari Rebo Legi.