Tips Wisata

Gunung Kidul Pada Suatu Hari



Gunung Kidul Pada Suatu Hari

Pagi masih muda, Saya memacu cepat kendaraan, berkejaran dengan jarum menit yang belumlah genap melewati pukul enam. Hawa pagi ini tak membuat Saya mengigil, mengingat semalam harus terbangun berkali-kali karena gerah bukan main. Akhir musim kemarau di Jogja kali ini cukup menyiksa, udara kering berdebu dan suhu yang cukup membuat kepala cenat-cenut.

Berangkat dari Kota Jogja, sepeda motor saya arahkan menuju timur melewati jalan lintas kabupaten yang mulus dan berkelok-kelok. Saya selalu suka perjalanan ke Gunungkidul apalagi pagi hari. Pemandangannya luar biasa. Barisan pohon jati yang meranggas dan berwarna kemerahan adalah favorit saya.

Enaknya ke Gunungkidul itu melewati "jalan belakang" adalah jalanan yang cenderung lebih lancar dan sama bagusnya dengan lewat jalan utama yang biasa dilewati truk-truk dan warga Jogja. Meski tanjakkannya membuat motor matic Saya ngos-ngosan, akhirnya tiba juga di sebuah Kecamatan di tengah Gunungkidul. Kalau kata orang kecamatan di Jogja itu besarnya seperti kabupaten, saya setuju seratus persen. Luas banget!

Selesai dengan urusan pekerjaan, tiba-tiba saya teringat kalau wilayah ini terasa familiar. Jalanannya sepertinya saya kenal dan pernah lewati sebelumnya. Ternyata benar, beberapa tahun yang lalu saya pernah mampir ke Air Terjun Sri Gethuk disekitar sini.Sepertinya seru kalau bisa mampir sebentar seklaigus melihat seperti apa perkembangannya sekarang.

Bagi saya mengunjungi Gunungkidul adalah hal yang menyenangkan, karena selain potensi alamnya yang melimpah, penduduknya juga ramah-ramah. Gunungkidul, kabupaten yang dulu dipandang sebelah mata karena ketertinggalannya kini mulai pandai bersolek dan mengundang orang untuk datang. Satu persatu diperkenalkan, mulai dari gua, air terjun,pantai, hingga wisata minat khusus yang menantang.

Petunjuk menuju Air Terjun Sri Gethuk cukup jelas. Kami tinggal mengikuti dan dalam 20 menit sudah tiba di pintu gerbang. Sepanjang perjalanan mata saya dimanjakan oleh barisan bibit pohon eucalyptus dan tanah yang tetap terlihat subur meski kemarau panjang.

Akhirnya saya mengunjungi Goa Rancang Kencana dan Air Terjun Sri Gethuk, karena terpesona dengan foto-foto yang beredar di sosial media.

Goa Rancang Kencana
Goa bernama unik ini punya bentuk yang unik pula, berbentuk kubah dengan puncak yang sudah runtuh. Di tengahnya tumbuh sebuah pohon berusia ratusan tahun yang menembus hingga beberapa meter ke permukaan tanah.  

Cerita yang berkembang di masyarakat mengatakan bahwa pohon itu dulunya adalah sebuah tongkat besar yang ditancapkan ke bumi. Hanya ada dua ruangan di dalam goa ini. Stalaktit dan stalakmitnya sudah mati karena tidak ada aliran air. Begitu tahu goa ini biasa dipakai meditasi saya jadi agak bergidik, untungnya ada mas guide yang menemani, hehehe.

Air Terjun Sri Gethuk
Dulu mungkin hanya sedikit warga Jogja yang tahu keberadaan air terjun ini karena letaknya agak mblasuk ke dalam. Perlu jalan kaki melewati kebun penduduk dan tepi sungai Oyo untuk mencapai air terjun Sri Gethuk. Tapi sekarang aksesnya sudah sangat mudah dan aktivitasnya beragam. ada wahana flying fox, rafting dan tubing, hingga canyoning! Kalau ingin mencapai air terjunnya pun ada dua cara, naik perahu atau jalan kaki lewat tepian sungai. 

Nah karena sudah sangat populer, saya sarankan untuk datang di hari biasa agar tidak kemruyuk di sana. Jika datang di musim kemarau saat airnya jernih, kita bisa renang-renang cantik di sungainya. Mau cliff jumping juga bisa. Saya senang karena pengelolaannya cukup baik, mulai dari harga tiket masuk yang jelas, fasilitas yang lengkap, lokasi wisata yang bersih, dan pengelola tidak berlebihan mengeksploitasi spot wisata, jadi daya tarik utama tetap dibiarkan alami. Awas ya kalau ada yang datang dan buang sampah sembarangan. Tempat wisata ini adalah sumber air andalan masyarakat sekitar.