Tips Wisata

Pengrajin Perak Kotagede, Riwayatmu Kini



Pengrajin Perak Kotagede, Riwayatmu Kini

Ketika kamu jalan-jalan ke Jogjakarta tentunya oleh-oleh menjadi hal yang sangat penting, bukan? Kalau soal makanan mungkin kalian semua tahu bahwa bakpia adalah salah satu oleh-oleh wajib yang harus kamu bawa jika kamu berkunjung ke Jogja. Tapi bagaimana dengan oleh-oleh lain? Apa Jogja hanya punya bakpia? Oh… tentu tidak! Perak adalah salah satu oleh-oleh yang wajib kamu bawa dari Jogja. Kotagede adalah satu-satunya kampung wisata di Jogja yang dipenuhi oleh pengrajin perak! Jika kamu ke sana, kamu juga bisa berkunjung ke beberapa destinasi wisata yang ada di sana seperti makam-makam Raja Mataram dan melihat arsitektur-arsitektur rumah kuno yang terhampar disana dan membeli beberapa cindera mata khas Kotagede yakni perak.

outlet perak kotagede

sumber: wonderfulisland.id

Jika bicara soal perak dan Kotagede, tidak akan ada habisnya. Industri yang dimulai dari ratusan tahun yang lalu ini dulu sempat menjadi penghasil uang utama bagi penduduk yang ada disana. Di masa Belanda banyak sekali orang-orang Belanda yang memesan alat-alat berbahan emas, perak, atau pun tembaga kepada para pengrajin disana. Hal itu berlanjut sampai sekarang. Banyak sekali pengrajin di kanan kiri jalan Kotagede jika kamu berkunjung disana. Dari mulai outlet-outlet kecil hingga outlet besar yang memiliki galery sendiri. Tapi saat ini nasib para pengrajin perak di Kotagede sedang berada di ujung tanduk.

Jadi begini pembahasan selengkapnya; Mungkin sebagian orang mengira bahwa bisnis perak yang ada di Kotagede sekarang sedang bergeliat karena banyaknya outlet perak yang bermunculan. Tapi ternyata kemunculan outlet tersebut tidak dibarengi jumlah pengrajin yang meningkat. Dari data yang didapatkan oleh National Geographic yang mewawancarai koordinator Arsitek Komunitas bernama Yuli Kusworo pada tahun 2014 mengatakan bahwa jumlah pengrajin di Kotagede semakin lama semakin berkurang. Hal tersebut dimulai pada tahun 2006 ketika gempa besar melanda Jogja. Banyaknya bangunan yang roboh dan membutuhkan renovasi, membuat banyak orang mencari tenaga kuli bangunan untuk merenovasi bangunan mereka. Hal tersebut yang kemudian membuat banyak pengrajin perak yang banting stir menjadi tukang bangunan karena uang yang didapatkan disana jauh lebih besar dari yang mereka dapatkan ketika menjadi pengrajin perak.

outlet pengrajin perak kotagede

sumber: wonderfulisland.id

Sementara dikutip dari Solo Pos tahn 2014, pada tahun 2003 para pengrajin perak tersebut mampu meraih untuk hingga 20-30 juta sebulan. Sementara itu, di tahun 2014, menurut pemaparan salah satu pengusaha perak, untuk bisa mendapatkan 5 juta perbulan saja sudah sangat sulit. Hal tersebut karena mahalnya bahan baku perak yang mencapai harga 7.8 juta perkilo. Selain itu, setelah peristiwa gempa, tepatnya sejak tahun 2007 tidak ada peningkatan ekspor perak dari Kotagede yang signifikan. Hal tersebutlah yang kemudian membuat jumlah pengrajin perak di Kotagede yang awalnya 90% dari total penduduk, berkurang drastis menjadi hanya 30-40% saja.

Menurut salah satu pengrajin, peralatan yang mereka miliki sangatlah kuno dan tertinggal 20 tahun dari peralatan produksi perak terbaru. Hal itulah yang semakin membuat perak di Kotagede tidak bisa berkembang secara signifikan. Kotagede banyak kalah bersaing dengan Jawa Timur dan Tiongkok yang di Jawa Timur, mampu memproduksi 100 keping suvenir perak perhari, sementara di Kotagede hanya mampu memproduksi sekitar 10 keping perhari saja.

hasil kerajinan perak kotagede

sumber: wonderfulisland.id

Keadaan ini semakin parah dengan jumlah pesanan yang menurun setiap tahunnya dan regenerasi pengrajin yang kurang membuat kerajinan perak Kotagede semakin terancam. Kebanyakan generasi muda tidak tertarik untuk berbisnis perak karena gajinya yang kecil dan omsetnya yang semakin lama semakin susah didapatkan. Tapi meskipun keadaan semakin sulit, masih ada beberapa pihak yang mencoba menyelamatkan bisnis ini. Beberapa pengrajin perak di Kotagede sendiri misalnya, mencoba berinovasi pada produk kerajinan mereka dengan mencampur bahan baku perak dengan tembaga dan nikel untuk membuatnya semakin murah dan mendongkrak penjualan. Hal tersebut ternyata cukup berhasil karena cukup diminati oleh banyak pembeli karena harganya yang relatif murah. Dengan inovasi tersebut, omset pendapatan pengrajin cenderung stabil.

Sementara Arsitek Komunitas memiliki caranya sendiri untuk menyelamatkan buah tangan khas Jogja ini. Arkom sendiri memiliki solusi yang sempat dilakukan pada tahun 2015 yakni sebagai berikut;

  • Menggali Potensi Pengrajin Perak.
  • Menggeser mindset buruh menjadi desainer perak.
  • Bekerja sama dengan British Council Indonesia.
  • Mendatangkan 2 desainer perhiasan: Simon Fraser dan Elizabeth Wright.
  • Memberikan pelatihan 5 hari pada 22 pengrajin.

Arkom mengharapkan dengan diadakannya pelatihan tersebut, akan meningkatkan omset penjualan perak dan kemudian mampu menyelamatkan kerajinan khas Jogja yang satu ini.

Begitulah kira-kira keadaan perak di Kotagede. Kota yang penuh dengan pengrajin itu kini terancam keberadaannya. Padahal kerajinan perak di Kotagede sudah terkenal sampai ke manca negara dan menjadi salah satu icon penting dari Yogyakarta. Jadi, jika ingin beli oleh-oleh di Jogja jangan lupa mampir ke Kotagede dan beli beberapa suvenir perak yang pas untuk kamu. So! Happy traveling!

 

 

Sumber:

http://wonderfulisland.id/pengrajin-perak-kotagede-riwayatmu-kini/

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/04/kian-langkanya-pengrajin-perak-asal-kota-gede

http://jogja.antaranews.com/berita/335409/pengrajin-minta-pemda-diy-perkuat-kualitas-perak?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news

http://www.solopos.com/2014/05/20/kerajinan-perak-perajin-kotagede-tak-lagi-berpenghasilan-gede-508885