Tips Wisata

Pesona Tersembunyi Semarang



Pesona Tersembunyi Semarang

Siapa yang tak mengenal Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah? Kota ini juga dikenal sebagai salah satu pusat industri. Tapi tahukah kamu Semarang juga mempunyai banyak objek menarik untuk tujuan wisata? Wilayah Kota Semarang serta Kabupaten Semarang layak juga untuk dijadikan tempat refreshing kamu dan keluarga lho. Dari pantai hingga gunung ada di sini. Mau tahu apa saja rekomendasi tempat wisata yang asik di Semarang? Simak terus ya!

  • Lawang Sewu

Bangunan bersejarah yang penuh cerita mistis ini menjadi salah satu landmark paling iconic di Semarang. Pintunya yang seolah berjumlah seribu (padahal aslinya hanya 429 buah) menjadi alasan bangunan ini dijuluki Lawang Sewu. Aslinya, Lawang Sewu dibangun sebagai Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau  Kantor Pusat NIS, sebuah perusahaan perkeretaapian swasta Hindia Belanda, dibangun tahun 1904 dirancang oleh  Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Konon, bangunan ini dijadikan tempat menyiksa tawanan hingga wafat. Dari cerita yang beredar, sering ditemukan makhluk gaib berupa hantu tentara Belanda, hantu tentara Jepang, hingga hantu wanita Belanda. Di luar cerita mistis yang ada, bangunan yang kini menjadi museum ini menyimpan pesonanya yang khas Belanda kuno, sehingga sering pula dijadikan lokasi foto pre-wedding.

  • Klenteng Sam Poo Kong

Tempat ibadah umat Kong Hu Chu ini terbilang unik, dan kental dengan sejarah kedatangan tentara Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho. Sejatinya, Laksamana Cheng Ho beragama Islam, dengan nama Arab Haji Mahmud Shams. Namun umat Kong Hu Chu menghormati Laksamana Cheng Ho, karena mereka meyakini bahwa orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan. Laksamana Cheng Ho terpaksa mendarat di Semarang kuno akibat banyak awak kapalnya yang sakit. Setelah mendarat, beliau berlindung di sebuah gua dan mendirikan masjid, yang kini menjadi kelenteng. Kelenteng ini didominasi warna merah dengan hiasan lampion. Area klenteng ini tak hanya untuk pemujaan sang laksamana, terdapat pula tempat pemujaan Kyai Juru Mudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi, serta Kyai dan Nyai Tumpeng. Wisatawan diperbolehkan berkunjung di area halaman klenteng, namun tidak diperkenankan untuk memasuki kuil, karena kuil hanya diperbolehkan bagi mereka yang ingin berdoa, demi menjaga ketenangan dan kenyamanan dalam berdoa. Di klenteng ini, setiap tahun baru imlek, selalu diadakan perayaan. Bahkan setiap bulan Agustus diadakan festival untuk mengenang kedatangan Laksamana Cheng Ho.

  • Museum Rekor Indonesia

Kamu pasti tak asing dengan berbagai pemecahan yang diakui MURI, alias Museum Rekor Indonesia. Tapi pernahkah kamu berkunjung ke lokasi museum itu sendiri? Gedung MURI berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Srondol Kulon. Buka pada hari Senin – Jumat pukul 09.00 hingga tutup jam 15.00. Museum ini diprakarsai oleh salah satu pengusaha jamu, sekaligus budayawan, Jaya Suprana. Beliau ingin agar bangsa Indonesia menghargai karsa dan karya bangsa yang ditunjukkan lewat pemecahan rekor. Museum ini memiliki berbagai dokumentasi pemecahan rekor, dan menyimpan beberapa benda yang memecahkan rekor. Salah satunya adalah lipstik terbesar di Indonesia, karya PT Mustika Ratu, Tbk, yang memiliki tinggi 3 meter, diameter bingkai bawah 80 cm, dan diameter lingkar atas 70 cm. Museum ini berada satu wilayah dengan kawasan industri Jamu Jago.

  • Umbul Sidomukti

 

Ada kalanya kamu ingin berlibur bersama keluarga besar, namun tak ingin repot mencari tempat yang terpencar-pencar dan tidak dalam satu kawasan. Solusinya, kamu bisa kunjungi kawasan Taman Renang Alam Umbul Sidomukti. Kawasan ini berada di Bandungan, di kaki Gunung Ungaran. Alhasil, hawa sejuk pegunungan dapat kamu rasakan terus di sini. Asiknya, dalam satu kawasan resort ini, berbagai kegiatan bisa kamu coba. Ada taman renang alam, sejenis kolam renang pada umumnya, namun menggunakan mata air alami, sehingga kesegaran airnya berbeda dengan kolam renang biasa. Apalagi, sensasi dingin dan segar langsung terasa, karena kamu berenang di ketinggian 1200 mdpl. Panorama di sekeliling taman renang alam ini juga menakjubkan, dihiasi indahnya pemandangan Semarang yang terlihat dari kejauhan. Selain taman renang alam, ada pula wahana yang mampu memacu adrenalin dan seru. Wahana ini terbagi menjadi wahana permainan anak dan dewasa. Memacu kendaraan ATV di trek off road, bergantungan di atas seutas kabel dengan flying fox, menyeberangi jembatan goyang di permainan marine bridge, serta masih banyak lagi permainan yang bisa dicoba. Tak hanya itu, pihak pengelola juga menyediakan penginapan dan resto yang bisa dimanfaatkan untuk pertemuan keluarga maupun kantor atau komunitas.

  • Candi Gedongsongo

Masih di  Bukit Ungaran, dan masih di ketinggian 1200 mdpl, terdapat Candi Gedongsongo. Candi ini sejatinya adalah kompleks yang terdiri dari sembilan candi, sesuai namanya. Kesembilan candi ini mengelilingi sumber air panas, dibangun sekitar abad ke-8 dengan bentuk berundak, sebagai penghormatan kepada arwah leluhur. Candi Gedongsongo dibangun pada masa Dinasti Syailendra, ditemukan pertama kali oleh Loten tahun 1740, dan kemudian dicatat oleh Sir Stamford Raffles tahun 1804 sebagai Candi Gedong Pitu, karena saat itu baru tujuh candi yang ditemukan. Perjalanan menuju candi ini sedikit membutuhkan perjuangan karena jalannya yang menanjak dan berkelok, terlebih ketika hujan dan berkabut. Di antara Candi Gedong III dan Candi Gedong IV terdapat sebuah kepunden sebagai sumber air panas dengan kandungan belerang. Kepunden ini bisa dimanfaatkan wisatawan untuk menghangatkan badan. Jika kamu merasa tidak kuat ketika menjelajah kompleks candi yang menakjubkan ini, kamu bisa menyewa kuda sebagai alat transportasi berkeliling.

  • Klenteng Tay Kak Sie

Tempat ibadah ini tak kalah cantik dengan Klenteng Sam Poo Kong. Ukuran bangunannya memang tak sebesar Sam Poo Kong, namun keindahan ornamen penghias klenteng ini luar biasa memukau. Klenteng ini awalnya ditujukan untuk menghormati Dewi Welas Asih, yang biasa dikenal dengan nama Dewi Kwan Im. Namun sekarang berkembang menjadi klenteng yang ditujukan untuk menghormati berbagai dewa-dewi. Awal mula klenteng ini dimulai dari orang-orang Tionghoa yang bermukim di Pecinan dan Kota lama yang kesulitan ketika beribadah. Klenteng Sam Poo Kong yang telah berdiri dirasa cukup jauh dijangkau. Seorang saudagar bernama Khouw Ping kemudian berinisiatif membangun rumah pemujaan kecil bernama Kwan Im Ting pada tahun 1724. Karena membludaknya umat, akhirnya tempat ibadah ini dipindahkan ke sebuah kebun cabai yang sekarang menjadi Gang Lombok, pada tahun 1746. Seperti klenteng lainnya, Tay Kak Sie ramai  saat perayaan imlek, dengan segala perayaannya. Di dekat klenteng ini terdapat kuliner Semarang yang sudah melegenda, yaitu Loenpia Gang Lombok. Jangan lupa sempatkan membeli makanan olahan rebung ini ketika kamu telah sampai di Tay Kak Sie.

  • Kawasan Kota Lama

Tak usah jauh-jauh ke negeri kincir angin jika ingin merasakan atmosfer Belanda. Kawasan yang dulu bernama Outstadt ini dahulu menjadi pusat pertahanan pemerintahan kolonial. Terdapat sekitar lima puluh bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah Indonesia yang kala itu masih Hindia Belanda. Bangunan-bangunan itu seolah tak pernah habis pesonanya walaupun zaman telah berganti. Gereja Blenduk yang menjadi ikon Kota Lama masih tegak berdiri menunjukkan kecantikannya. Gereja ini dahulu digunakan sebagai gereja Nederlandsche Indische Kerk, dan sekarang pun masih aktif digunakan untuk kegiatan ibadah umat GPIB Immanuel. Selain Gereja Blenduk, masih banyak bangunan tua yang masih aktif digunakan, antara lain Jembatan Berok, Stasiun Semarang Tawang, Kantor Pos Pusat, Gedung Marabunta yang sekarang menjadi kantor sebuah yayasan, gedung Djakarta Lloyd, Pabrik Rokok Praoe Lajar, dan titik nol kilometer dekat Jembatan Berok.

  • Rawa Pening

Danau yang asri di Kecamatan Ambarawa ini erat kaitannya dengan kisah Baru Klinthing. Danau ini memiliki luas 2.670 hektar, dan menjadi hulu Sungai Tuntang. Rawa Pening bukan berarti danau yang selalu pusing, ya. Pening di sini artinya bening. Danau ini dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk menangkarkan ikan, dan memanfaatkan tumbuhan eceng gondok yang banyak tumbuh di sini. Kamu bisa menyewa perahu untuk menikmati danau yang dikelilingi Bukit Ungaran ini.

  • Museum Kereta Api

Museum ini sejatinya adalah sebuah stasiun kereta api, namun karena jalur kereta api di Ambarawa tak lagi digunakan sebagai jalur kereta yang aktif, kini stasiun ini digunakan sebagai museum yang memiliki koleksi berbagai lokomotif uap. Bangunan museum ini didirikan tahun 1873 dan dikenal dengan Stasiun Willem I. Yang menarik dari museum ini adalah terdapat kereta wisata yang akan membawamu menelusuri jejak jalur bersejarah dari Ambarawa menuju Tuntang. Rangkaian kereta ini dijalankan setiap akhir pekan dan ketika hari libur nasional, dengan menggunakan lokomotif diesel D301. Jika ingin lebih seru, kamu bisa menyewa satu rangkaian kereta uap dengan rute yang lebih asyik. Rute kereta uap ini istimewa karena melalui rel bergerigi yang hanya ada di Ambarawa dan di Sawah Lunto. Dengan menyisihkan lima belas juta rupiah, kamu bisa merasakan sensasi kereta uap dengan jalur menanjak hingga Stasiun Bedono, sedangkan  dengan kereta diesel reguler dikenakan tarif Rp 50.000,00. Selain koleksi lokomotif uap dan kereta wisata, museum ini menyimpan segala perlengkapan perkeretaapian zaman dahulu, mulai dari persinyalan, perabotan, mesin tiket, hingga mesin hitung yang dulu digunakan untuk kegiatan pembukuan.

  • Museum Jamu Nyonya Meneer

Kamu mungkin sudah kenal dengan candaan tentang wanita paling kuat di dunia ini, yang telah berdiri sejak 1919 dan belum pernah duduk. Nyonya Meneer dikenal sebagai salah satu perusahaan jamu pertama di Indonesia. Karena jamu sudah menjadi warisan budaya bangsa, maka generasi kedua pemilik perusahaan mendirikan museum jamu pertama di Indonesia ini. Museum ini menyimpan berbagai sejarah pembuatan jamu di Indonesia, serta perangkat pendukung pembuatan jamu. Ada juga replika peracikan jamu, serta tanaman jamu dengan khasiatnya bagi tubuh. Museum ini dibuka setiap hari Senin sampai Jumat, jam 10.00 – 15.30 WIB. Asyiknya lagi, untuk masuk ke museum ini tidak perlu mengeluarkan uang, alias gratis. Kapan lagi bisa belajar warisan budaya Indonesia yang telah mendunia dengan mudah dan murah.

  • Curug Lawe dan Curug Benowo

Karena lokasi Semarang yang berdekatan dengan Gunung Ungaran, maka tersimpan pesona pegunungan yang selalu menarik untuk dikunjungi. Terletak di Desa Kalisidi, Gunung Pati, Kecamatan Ungaran Barat, seolah menjadi satu paket, karena lokasinya saling berdekatan. Kedua air terjun ini masih berada di wilayah Perhutani KPH Kedu Utara. Siapkan stamina jika kamu hendak ke sini, karena kamu harus berjalan kaki melalui jalan setapak berbatu dan kadang terjal. Bakar dulu kalorimu untuk mendapatkan pemandangan dan suasana yang mampu membuat decak kagum tak berhenti, menyaksikan butiran air jatuh serupa benang-benang halus. Hijaunya hutan dan hawa pegunungan mampu menyegarkan diri setelah berpeluh mendaki gunung.

  • Setiya Aji Flower Farm

Bumbu-bumbu hubungan asmara pasangan yang sedang dimabuk asmara antara lain adalah bunga. Dari dulu, bunga selalu identik dengan ungkapan cinta. Tak ada salahnya kamu mengajak kekasih untuk main ke kebun bunga yang terletak tak jauh dari Candi Gedong Songo ini. Komoditas tanaman utama yang ada di perkebunan ini adalah bunga krisan dalam berbagai warna. Tak heran, kebun ini ramai dikunjungi anak muda yang ingin meningkatkan eksistensinya dengan berfoto di tengah kebun untuk diunggah di media sosial. Kamu boleh berfoto sepuasnya di sini, tapi tetap ingat supaya menjaga kebun agar tidak rusak. Kamu bisa juga membeli bunga krisan sebagai buah tangan atau sekalian membeli bibitnya jika ingin mencoba membudidayakan tanaman krisan di rumahmu.

Dari semua objek wisata di Semarang tadi, mana yang telah kamu kunjungi? Ceritakan di kolom komentar ya!