Travel Story Detail

Belajar



Teh anget, kacang dan pisang rebus, serta donat menjadi pelengkap kami ngobrol santai malam itu. Tidak seperti acara formal layaknya seminar atau talkshow, kali ini acara "Sawang-Sinawang" yang menurut bahasa Indonesia artinya adalah “sudut pandang” atau bagaimana cara kita melihat sesuatu hal,  menghadirkan tokoh inspiratif yang bernama Zuhrida Siregar atau kerap disapa dengan sapaan Ibu Ruth berlangsung sangat hangat dan akrab. Tidak banyak yang datang, mungkin sekitar kurang lebih 35 orang berada di warung kopi Mbelinger  Coday.  Pesertanya macam-macam, ada yang mahasiswa ada yang relawan kemanusiaan di bidang pendidikan anak-anak, ada yang hari itu melihat postingan  di salah satu akunmedia social di Jogja, mereka terlibat aktif dalam diskusi yang berdurasi selama kurang lebih 90 menit.

Ibu Ruth yang senang sekali jika melihat orang gila, senang memandikan dan mengajak mereka bernyanyi. Bahkan dia pernah juga merawat 1 keluarga (suami, istri dan anaknya 4) yang mulanya tidur di kandang ayam lalu ditampung satu rumah dengan beliau. Ada juga bapak-bapak yang sudah tua karena tidak memiliki sanak saudara serta hidup di jalanan lalu dibawa pulang ke rumah kontrakannya sampai beliau meninggal.

"Mengapa Ibu melakukan hal tersebut?, apa yang menjadi alasan Ibu melakukannya? " Tanya Mas Gito selaku moderator.

"Entahlah, saya juga heran. Saya ingin nguwongke-uwong , yang sebagian besar masyarakat menganggap orang gila itu adalah pengganggu atau manusia yang tidak berguna. Namun tidak bagi saya, mereka juga manusia dan kita bisa berteman dengan mereka. Saya telah membuktikannya“  Jawab Ibu Ruth dengan senyumnya yang hangat dan semua peserta diskusi yang hadir salut dengan mata berkaca-kaca memberikan tepuk tangan yan lirih.

Pasca gempa Jogja tahun 2006 Ibu Ruth berjualan angkringan di alun-alun utara. Di sanalah awal mula dia banyak memberikan makanan, minuman, sedikit uang, memandikan mereka dan mengajaknya bernyanyi bersama. Kadang, sesekali Ibu Ruth menyuruh orang gila tersebut untuk menghitung bus yang diparkir di alun-alun dan baru setelah itu diberikan makanan atau minuman. Katanya “saya bukan ahli psikologi atau berpendidikan tinggi, tapi saya berpikir mungkin kalau saya mengajak mereka berhitung, itu sama saja dengan mengajak mereka untuk berpikir”.

Ibu Ruth adalah sosok Ibu berusian 45 tahun yang sangat sederhana, dirumahnya tidak ada perabotan rumah yang bernilai. Beliau juga tidak mengenakan perhiasan seperti kalung, gelang, cincin ata giwang.

“Mengapa Ibu tidak mencukupi kesenangan pribadi seperti perhiasan?”, Tanya Mas Gito.

“Saya tidak kepikiran untuk membeli barang-barang tersebut, pakaian juga belinya di awul-awul. Saya tidak begitu senang dengan perhiasan tetapi justru saya lebih senang kalau uang saya, saya berikan untuk mereka yang membutuhkan. SIM A saya juga sekarang masih di Rumah Sakit Bethesda karena sebagai jaminan pas waktu itu ada anak jalanan yang kritis lalu meninggal dunia, dan sampe sekarang SIM itu masih disana karena saya juga tidak bias nebusnya”, sambil  tersenyum lebar Ibu Ruth mengatakan demikian dan lagi-lagi saya hampir mengeluarkan air mata saking terenyuhnya.

Lalu ada pertanyaan terakhir dari moderator di malam itu :
“Apa yang menjadi cita-cita atau mimpi Ibu Ruth?”

Lalu Ibu Ruth menjawab “Saya ingin sedikit memberikan untuk Bangsa ini, dan memutus tali kemiskinan melalui anak-anak. Karena jika kita berbicara mengenai anak-anak, disitulah ada HARAPAN yang besar. Semoga dengan keberadaan Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) kegiatan belajar anak-anak di bantaran sungai Code yang berlangsung di rumah saya bisa terselenggara selama-lamanya, dan anak-anak di sekitar kontrakan saya bisa memiliki semangat belajar yang tinggi, bisa menjadi sukses dan berguna bagi Bangsa dan Negara ini.” Jawab Ibu Ruth.

Rumah Belajar Indonesi Bangkit (RBIB) merupakan rumah belajar yang didirikan oleh Ibu Ruth dan 5 mahasiswa yang bertemu dengan beliau di alun-alun utara sekitar 3 tahun yang lalu. Karena Ibu Ruth telah menceritakan kondisi masyarakat yang mayoritas mata pencaharian orang tua mereka dekat dengan kriminalisme, etika dan sopan santun pada anak juga sudah hilang, tingkat kemiskinan yang tinggi dan kalau boleh saya menggambarkan mungkin hampir sama seperti daerah “Kampung Serigala Terakhir” kalau di film. Sebenarnya sangat tidak baik untuk tumbuh kembang anak-anak, akan tetapi Ibu Ruth selalu berdo’a dan memiliki motivasi tinggi untuk keberlangsungan rumah belajar tersebut.

Selesai diskusi, ada acara ngobrol santai antara yang datang malam itu dengan Ibu Ruth langsung atau kakak-kakak pengajar di RBIB dan banyak yang tertarik untuk berpartisipasi memberikan bantuan waktu dan tenaga untuk beliau. Semoga Ibu Ruth bertemu dengan orang-orang yang bisa berjalan berdampingan dengan beliau, bisa memberikan manfaat bagi orang lain dan tanpa pamrih melakukan perbuatan-perbuatan mulianya itu.

Itulah singkat cerita mengenai diskusi “Sawang-Sinawang” dan sosok Ibu Ruth, semoga bisa memberikan inspirasi kepada semua yang membaca artikel ini. Dan kita bias belajar banyak dari beliau untuk bias menerapkan dalam kehidupan kita  untuk “Menanusiakan Manusia”.

Oia, acara "Sawang-Sinawang" ini akan berlangsung selama 35 hari sekali , dan selalu dikemas menarik dan asik. Jadi nanti habis lebaran, tanggal 28 Juli 2016 luangkan waktumu untuk ikut acara ini ya. Dijamin nggak nyesel dan banyak manfaatnya :)

 

more information : fidarinidevi@gmail.com


Review Terbaru

  • Jooshh...Gandhooosss.... semoga mba fida selalu menjadi orang baik ya mba.. amin..

    Review Oleh : anggigatot

      21 Juli 2016


  • Review Oleh : Andreas T

      18 Juli 2016


  • Review Oleh : Supriyadi Fatmah

      10 Juli 2016

  • Joss..

    Review Oleh : Anri Wahyu Cahyono

      29 Juni 2016







Komentar

5 Ratings  (4 Komentar)
5 Bintang
50%
2 Komentar
4 Bintang
50%
2 Komentar
3 Bintang
0%
0 Komentar
2 Bintang
0%
0 Komentar
1 Bintang
0%
0 Komentar


Login untuk memberikan review

Daftar Komentar