Travel Story Detail

Kembang Soka,Pesona di Tengah Hijaunya Lereng Gunung Kelir



Kembang Soka, sebuah nama obyek wisata yang membuat saya sangat penasaran. Obyek wisata Kembang Soka terletak di lereng gunung Kelir, desa Jatimulyo, kecamatan Girimulyo, kabupaten Kulon Progo. Perjalanan menuju obyek wisata Kembang Soka dari Yogyakarta bisa melalui rute jalan Godean lurus ke barat menuju Naggulan hingga ke Jatimulyo yang akan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Tetapi ada rute lain yang dapat ditempuh yaitu melalui kota Wates, Kulon Progo menuju Clereng kemudian Sidomulyo yang akhirnya akan sampai juga di desa Jatimulyo. Perjalanan kami lebih lama karena mampir untuk mencicipi dawet (cendol) di daerah Nanggulan, Kulon Progo. Jalanan mulai menanjak dengan pemandangan sawah berundak di kanan kiri. Selain itu kami juga disuguhi hijaunya perbukitan menoreh yang terlihat dari jalan raya. Semilir angin mulai kami rasakan ketika perjalanan sudah mulai naik ke arah menuju Kembang Soka. Keluar dari mobil sambil menikmati kesejukan adalah salah satu solusi tepat agar mobil bisa tetap melewati jalanan aspal yang menanjak hampir 80 derajat.

Menuju kembang soka akan melewati Gunung Lanang sebagai salah satu spot sunrise, kemudian melewati taman Goa Kiskendo.  Saat itu sedang dilakukan pelebaran jalan sehingga kami tidak dapat melalui jalan utama tetapi melewati jalan alternatif lain yang lebih terjal dan sempit bagi sebuah mobil yang akan  melintasinya. Petunjuk arah menuju obyek wisata Kembang Soka cukup jelas dan sangat membantu para wisatawan untuk menuju tempat wisata. Di kanan kiri jalan terdapat rumah warga yang jaraknya dipisahkan oleh pekarangan dan kebun. Terdengar suara kambing yang menyambut ketika akan sampai di kawasan Kembang Soka. Kambing-kambing tersebut didalam kandang milik warga yang rumahnya dekat dengan jalan utama. Suasana khas pedesaan masih bisa dirasakan oleh kami saat menginjakkan kaki di Desa Jatimulyo ini.

Lereng gunung Kelir menyuguhi pemandangan berupa batuan kapur yang pahatannya terlihat dari jalan raya. Pahatan-pahatan alam membentuk seperti sebuah istana besar yang ditutupi oleh rimbunnya pepohonan. Warga di lereng gunung Kelir mengembangan perkebunan yang ditanami cokelat, kopi dan vanili. Komoditas kopi menoreh dikembangkan oleh mas Sidik dan mas Kelik untuk menonjolkan potensi lokal yang berkelanjutan. Kopi dengan sedikit rasa kunyit ini merupakan kopi khas pegunungan menoreh yang sudah dikembangkan bersama sejak tahun 2008. Untuk tanaman yang bisa dipanen dalam 5-6 tahun mereka menanam pohon mahoni, pohon jati dan pohon sengon.

Sebelum memasuki kawasan wisata kembang soka, parkir mobil di tepi jalan utama sementara untuk parkir motor bisa masuk hingga ke rumah pak Yono salah satu  perintis obyek wisata Kembang Soka. Kembang Soka ini terletak di tengah perkebunan cokelat milik warga dengan jalanan turun yang cukup curam, menurut saya lebih baik tidak mengenakan alas kaki agar tidak terjatuh saat melewati jalanan yang licin. Selain jalanan berupa tanah berundak, ada beberapa wot (jembatan dari bambu) yang dibuat secara swadaya oleh warga.

Menurut penuturan pak Yono tempat ini dinamai kembang Soka karena dahulu  banyak pohon soka. Tetapi saat ini sudah tidak lagi ditemukan pohon Soka di kawasan Kembang Soka. Saat melintasi separuh jalan tanah berundak yang curam, kami menemukan pancuran air bersih yang ditampung di sebuah gentong yang terbuat dari tanah yang bernama Toyo Tombo. Toyo berarti air dan tombo berarti obat, menurut pak Yono air ini dapat digunakan sebagai lantaran (perantara) untuk menyembuhkan orang yang sedang sakit bagi yang mempercayainya.

Kemudian  menurut cerita leluhur beliau, saat perang Jawa Pangeran Diponegoro melintasi daerah Kembang Soka yang kemudian kuda Pangeran Diponegoro pernah dimandikan disini. Oleh karena itu petilasan pemandian kuda Pangeran Diponegoro dinamai Tuk Jaran. Tuk berarti mata air, Jaran berarti kuda. Ada beberapa bunga yang mekar berwarna merah muda di dekat Tuk Jaran dengan air yang selalu mengalir jernih diantara bebatuan kapur membuat kami terpesona dengan keindahan obyek wisata Kembang Soka.

Ada 3 mata air utama di kawasan Kembang Soka yaitu Kembang Soka, Tuk Jaran dan Kaimiri. Ketiga mata air ini melewati sungai dengan batuan kapur dan membentuk air terjun. Pertemuan dua air terjun besar membentuk kolam yang bisa digunakan untuk berenang. Kolam untuk berenang tidak pernah kering, terbukti ketika musim kemarau sekitar 8 bulan yang lalu, kolam tetap jernih berwarna biru dengan pasokan air yang memadai. Warga sekitar Kembang Soka juga tidak pernah kekurangan air, supply air yang mencukupi didapat dari sungai bawah tanah. Sungai tersebut bernama sungai Mudal dari Gua Mudal dan sungai Bangki dari Gua Seplawan.

Obyek wisata Kembang Soka dibuka pada bulan Januari 2015 tetapi baru diresmikan oleh bupati Kulon Progo bapak dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) pada tanggal 15 Juni 2015. Menurut para perintis, obyek wisata Kembang Soka didirikan secara swadaya oleh warga yang sadar akan wisata, jadi obyek wisata ini tidak ada dibawah dinas Kehutanan ataupun dinas Pariwisata. Warga bersama-sama membangun tempat wisata dengan harapan kedepan akan meningkatkan perkeonomian di desa Jatimulyo.

Wajah  Kembang Soka bersih dari sampah dan sudah disediakan tempat sampah dari bambu di sepanjang jalan menuju tempat pemandian. Tiket masuk menuju obyek wisata kembang soka sebesar Rp 4000/orang, namun apabila membutuhkan pelampung untuk berenang ditambahkan biaya sebesar Rp 2500/orang. Untuk harga tiket parkir roda dua sebesar Rp 2000 dan roda empat Rp 5000.

Perjalanan panjang kami menuju Kembang Soka sudah terbayarkan dengan keindahan alam dan kesegaran air yang berwarna biru. Saat perjalanan pulang kami memilih melalui jalur Jatimulyo-Sidomulyo yang disuguhi dengan hutan jati. Sampai daerah Clereng kami melanjutkan ke arah Yogya melalui Sentolo. Terimakasih kepada Pak Josh Handani atas rekomendasi tempat gathering Rumah Guide Indonesia kali ini dan terimakasih kepada teman-teman sudah mengajak saya ketempat yang mempesona seperti batu safir biru muda yaitu Kembang Soka. 


Review Terbaru

  • keren

    Review Oleh : Vika Kurniawati

      10 November 2016


  • Review Oleh : Anri Wahyu Cahyono

      01 November 2016







Komentar

3 Ratings  (2 Komentar)
5 Bintang
0%
0 Komentar
4 Bintang
50%
1 Komentar
3 Bintang
0%
0 Komentar
2 Bintang
50%
1 Komentar
1 Bintang
0%
0 Komentar


Login untuk memberikan review

Daftar Komentar