Travel Story Detail

Dangau Cinta dan Pendaratan di Perahu Bermotor Rawa Pening



Kenapa memakai kosa kata "pendaratan"? Ya karena seperti itulah rasanya. Aku yang terbiasa dengan transportasi darat (baca: bus, roda dua, jalan kaki, dan kereta) maka sedikit ngeri-ngeri sedap saat harus mendaratkan kaki di dalam perahu bermotor. Thanks to Dika yang telah membantuku.

Kalian sudah melihat bentuknya di gambar headline? Nah benar kan, termasuk perahu, dan bukan sampan?
Sedikit bingung saat mendefinisikan, karena sepertinya perahu mempunya ukuran yang lebih luas. Tapi sutralah, yang penting benda yang kokoh walau terbuat dari batang kayu tersebut sudah membawaku dengan aman dan selamat menyusuri Rawa Pening.

Aku tak sempat mengukur berapa laksa atapun depa dari perahu yang siang itu khusus disewa tim Spotunik untuk para travelers dan talent free trips Ambarawa. Yang pasti aku, Della, Dika, Toas dan kamerawan bisa duduk nyaman. Ada tiga papan kayu yang bisa kami duduki di dalam lambung perahu dan tepat di bawah atap kayu berbentuk segi panjang. Saat duduk, kami memang tak perlu membungkuk seperti saat masuk perahu namun perlu diperluas saat wisatawan luar negeri mulai berdatangan.

Oya, perahu tersebut sebenarnya perahu milik penduduk setempat yang digunakan untuk memanen ikan di karamba yang mereka miliki. Benar di tengah Rawa Pening, tersebar banyak karamba di antara kerumunan enceng godok yang tumbuh subur. Kalian tahu apa yang dimaksud karamba? Yup, karamba adalah kotak berbentuk persegi panjang terbuat dari bambu biasanya. Karamba dibuat dengan banyak bilah bambu yang tidak terlalu rapat, agar air masih bisa masuk namun ikan urung bisa keluar. Karamba dalam jumlah lebih dari satu biasanya mudah ditemukan di danau, waduk dan rawa. Aku tak perlulah menceritakan ulang tentang sejarah ataupun problema yang dialami penduduk setempat. Mari kita bicara tentang apa yang aku rasakan mendarat di sana.

Aku sih sudah merekam perjalanan dari awal perahu masih menempel di bawah Jembatan Biru Rawa Pening sampai menyusuri rawa. Namun semuanya ada di instagramku, kalian cek ya dan syukur-syukur follow. Di sana ada adegan alay tanganku menyentuh permukaan air rawa pening. Ha ha

Well actually menyentuh air rawa pening sebenarnya salah satu keinginan tersembunyiku saat masih kecil. Dulu saat masih belum memakai seragam merah putih, aku bertandang ke rawa pening bersama keluarga, namun hanya bisa duduk memandang di bawah pohon. Keadaan masih kotor, belum tertata seperti sekarang dan enceng godok masih merajai permukaan rawa. Nah ketahuan deh umurku sekarang.

Beberapa bulan sebelum free trips ini, aku sebenarnya melewati Rawa Pening saat melintasinya menuju Semarang bersama serombongan temanku. Saat itu aku hanya mengucap keinginan agar bisa menyentuh air rawa pening dan ternyata jadilah keinginanku. Lain kali aku akan mengucap keinginan mengelus menara eiffel ah..ha ha.

Well back to cerita awal ya. Perahu yang bernuansa biru (ciee diksinya) dengan gambar kartun "Pada jaman dahulu" di bagian ujungnya, akhirnya ditempati aku, Dika, Della dan Toas serta mas kamerawan serta pemilik kapal mulai menyusuri Rawa Pening. For your information, Rawa Pening mempunyai beberapa spot dermaga yang digunakan para nelayan (atau peternak ikan sih sebenarnya?) menempatkan perahunya. Hampir di setiap penjuru mata angin, terdapat puluhan perahu yang siap digunakan wisatawan untuk menikmati desau udara mengalir di tengah rawa.

Awalnya aku pikir ada sebuah restoran atau sebuah pulau kecil yang romantis dengan nyiur melambai awalnya. Namun ternyata bukan, walaupun juga menimbulkan kesan romantis juga kalau datang bersama pacar. Jadi jika kamu jomblo, pastikan datang bersama rombongan ya, agar tidak baper saat mendarat di Rawa Pening.

Di tengah Rawa Pening, di antara rimbunan enceng gondok, terdapat beberapa dangau kecil yang mengapung dengan atap menutupi langit. Sekilas mirip sarang burung dara atau kotak pos namun berukuran dua kali manusia lebarnya. Bahannya tentu dari kayu dan memunggungi dermaga Jembatan Biru. Kalian membayangkan saja ya, soalnya saat itu ponselku low bat jadi urung bisa mengabadikan Dangau Cinta.

Iya penduduk sekitar menyebut kotak pos tersebut dangau cinta. Para wisatawan bisa menggunakannya sebagai tempat kencan atau sekedar lokasi untuk selfie. Namun saat kami di sana, dangau tersebut masih kosong.


Untuk standart harga sih sepadan dengan pengalamannya, tapi tentu saja kantong wisatawan. After all, kapan menyusuri Rawa Pening lagi, kakak?
 



Komentar

0 Ratings  (0 Komentar)
5 Bintang
0%
0 Komentar
4 Bintang
0%
0 Komentar
3 Bintang
0%
0 Komentar
2 Bintang
0%
0 Komentar
1 Bintang
0%
0 Komentar


Login untuk memberikan review

Daftar Komentar